Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan Lahan

Dalam Ilham dkk (2000) , Faktor-faktor yang menentukan perubahan lahan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu faktor ekonomi,faktor sosial, dan peraturan-peraturan pertanahan yang ada atau telah ditetapkan pemerintah. (http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/(11)%20socanyak%20ilham%20dkk konversi%20lahan(1).pdf, 20 Juni 2009)
Ilustrasi Penggunaan Lahan
Ilustrasi Penggunaan Lahan


1.      Faktor Ekonomi
Secara ekonomi alih fungsi lahan yang dilakukan petani baik melalui transaksi penjualan ke pihak lain ataupun mengganti pada usaha non padi merupakan keputusan yang rasional. Sebab dengan keputusan tersebut petani berekspektasi pendapatan totalnya, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang akan meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti, menunjukkan bahwa penggunaan lahan sawah untuk penanaman padi sangat inferior dibanding penggunaan untuk turisme, perumahan dan industri.
2.      Faktor Sosial
Menurut Witjaksono (1996) faktor sosial yang mempengaruhi alih fungsi lahan, yaitu: perubahan perilaku, hubungan pemilik dengan lahan, pemecahan lahan.
a)      Perubahan Perilaku
Prasarana dan sarana transportasi dan komunikasi yang memadai telah membuka wawasan penduduk pedesaan terhadap dunia baru di luar lingkungannnya. Mereka merasa dirinya sebagai petani ketinggalan zaman dan sama sekali belum modern. Persepsi mereka, terutama generasi mudanya, terhadap profesi petani tidak jauh berbeda dengan persepsi masyarakat perkotaan, yaitu bahwa profesi petani adalah pekerjaan yang kotor, sengsara, dan kurang bergengsi. Akibat perubahan cara pandang tersebut, citra petani dibenak mereka semakin menurun.
Dengan demikian lahan pertanian bukan lagi merupakan aset sosial semata, tetapi lebih diandalkan sebagai aset ekonomi atau modal kerja bila mereka beralih profesi di luar bidang pertanian. Mereka tidak akan keberatan melepaskan lahan pertaniannya untuk dialihfungsikan pada penggunaan non pertanian. Keadaan tersebut semakin diperburuk dengan kondisi ekonomi seperti saat ini, dimana kesempatan kerja formal semakin kecil. Tidak sedikit petani menjual lahannya untuk biaya masuk kerja pada lapangan kerja formal, atau membeli kendaraan untuk angkutan umum.
b)      Hubungan Pemilik dengan Lahan
Bagi petani yang hanya menggantungkan kehidupan dan penghidupannya pada usahatani akan sulit dipisahkan dari lahan pertanian yang dikuasainya. Mereka tidak berani menanggung risiko atas ketidakpastian penghidupannya sesudah lahan pertaniannya dilepaskan kepada orang lain. Di samping itu, status sosial penduduk pedesaan masih ada yang dikaitkan dengan luas kepemilikan lahannya.
 Dengan memiliki lahan yang luas, petani dapat memberi pekerjaan kepada tetangganya. Hubungan antara pemilik lahan dengan buruhnya diikat dalam ikatan kekeluargaan yang saling membutuhkan, meskipun dalam status yang berbeda. Dalam hal ini, lahan pertanian merupakan aset sosial bagi pemiliknya yang dapat digunakan sebagai instrumen untuk mempertahankan kehormatan keluarganya. Lahan pertanian yang memiliki fungsi sosial seperti ini tidak mudah tergantikan dengan imbalan ganti rugi berupa uang meskipun jumlahnya memadai.

c)      Pemecahan Lahan
Sistem waris dapat menyebabkan kepemilikan lahan yang semakin menyempit. Lahan pertanian yang sempit di samping pengelolaannya kurang efisien juga hanya memberikan sedikit kontribusi bagi pendapatan keluarga petani pemiliknya. Biasanya petani tidak lagi mengandalkan penghidupannya dari bidang pertanian, sehingga mereka beralih mencari sumber pendapatan baru di bidang non pertanian. Untuk itu mereka membutuhkan modal atau dana yang diperoleh dengan cara menjual lahan pertaniannya. Banyak juga lahan yang diwariskan petani kepada anaknya digunakan untuk pemukiman sebagai akibat pengembangan keluarga melalui perkawinan.
 Bentuk lain yang berhubungan dengan pemecahan lahan adalah lembaga perkawinan yang umumnya berlaku di lingkungan masyarakat petani di pedesaan. Terbentuknya keluarga baru biasanya dibekali sebidang lahan oleh masing-masing pihak orangtua suami dan isteri untuk digabungkan menjadi milik bersama. Permasalahannya letak kedua lahan tersebut cenderung terpisah., sehingga kurang efisien dalam pengelolaannya dan sulit mengendalikannya. Dua kondisi ini mendorong pemiliknya untuk menjual sebagian lahan tersebut.
Menurut Yunus (2001: 16), terdapat empat kekuatan yang berperan dalam perubahan pemanfaatan lahan di daerah pinggiran kota, yaitu:
a.   Kekuatan sentrifugal, adalah kekuatan yang menyebabkan terjadinya gerakan baik penduduk maupun fungsi kekotaan yang berasal dari bagian dalam kota maupun fungsi kekotaan yang berasal dari bagian dalam kota menuju ka bagian luarnya.
b.   Kekuatan sentripetal, adalah kekuatan yang menyebabkan terjadinya gerakan baik penduduk maupun fungsi yang berasal bagian luar kota menuju bagian dalam.
c. Kekuatan lateral, adalah kekuatan yang menyebabkan terjadinya gerakan baik penduduk maupun fungsi yang berasal dari pinggiran kota yang bersangkutan.
d. Kekuatan in-situ, adalah kekuatan yang menyebabkan terjadinya perubahan pemanfaatan lahan tetapi berasal dari lokasi yang sama.
Adanya kekuatan yang mendorong suatu gerakan yang berasal dari daerah asal dan adanya kekuatan yang menarik di daerah tujuan mengakibatkan dinamisnya proses perubahan pemanfaatan yang ada karena agen pengubahnya juga berubah-ubah juga.
Murcherke dalam Rahayu, (2004:10) mengemukakan bahwa kenampakan penggunaan lahan berubah berdasarkan waktu yakni : keadaan kenampakan penggunaan lahan yang selalu berubah sesuai waktu. Kedua perubahan ini mempunyai tingkat perubahan dan berbagai variasi tingkat perubahan penggunaan lahan yang nantinya akan menghasilkan suatu pola perubahan penggunaan lahan tertentu. Lebih jauh Murcherke mengemukakan bahwa perubahan penggunaan lahan dapat terjadi baik secara sistematik maupun non sistematik.
Perubahan sistematik, ini terjadi dengan di tandai oleh kenyataan yang terulang, yakni perubahan tipe penggunaan lahan pada lokasi yang sama. Kecenderungan perumahan ini dapat ditemukan dengan pembuatan peta multi waktu. Fenomena yang ada harus dapat di petakan berdasarkan seri waktu, sehingga kondisi penggunaan lahan dapat diketahui.  Perubahan non sistematik, perubahan ini disebabkan oleh kenampakan luasan lahan yang mungkin bertambah, berkurang maupun tetap.
Menurut Bintarto dan Surastopo (1979 : 47) untuk mendapatkan data yang menunjukkan distribusi keruangan atau lokasi sifat datanya maka informasi tersebut sebaiknya ditunjukkan dalam bentuk peta. Peta penggunaan lahan adalah peta yang menggambarkan tata guna lahan yang terdapat pada suatu daerah tertentu. Tata guna lahan dapat berupa :
a.    Agricultural Land Use, apabila lahan tersebut digunakan untuk pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan. Sedang data yang digambarkan dapat berupa penyebaran dan jenis-jenisnya. Penggambarannya dapat dengan simbol semi pictorial, simbol pictorial atau dengan khoroplet.
b.   Non Agricultural Land Use, apabila lahan tersebut digunakan untuk jalan, kuburan, bangunan-bangunan perumahan, desa, pasar dan lain sebagainya. Penggambarannya dapat dengan simbol semi pictorial atau simbol pictorial.
Peta penggunaan lahan yang sering dijumpai adalah bersifat agricultural land use sedangkan yang non agricultural land use sering dimasukan kedalam peta umum. Peta ini dapat digunakan untuk menaksirkan kepadatan penduduk suatu daerah secara tidak langsung sebab dengan banyak data yang bersifat agricultur lebih-lebih yang non agricultur, berati makin banyak campur tangan manusia atasnya. Dengan demikian daerah itu daerah yang banyak penduduknya. Selain peta ini juga dapat untuk menafsirkan jenis iklim dari daerah yang bersangkutan, sebab dengan adanya jenis-jenis vegetasi, secara tidak langsung kita dapat memperkirakan jenis iklimnya dalam (Ischak, 1987: 40).
Merurut Rahayu (2002: 12), kecepatan perubahan penggunaan lahan kota setidaknya dipengaruhi oleh empat faktor, yakni (1) adanya konsentrasi penduduk dengan segala aktifitasnya.(2) aksesibilitas terhadap pusat kegiatan atau pusat kota, (3) jaringan jalan dan sarana transportasi, (4) orbitasi, yakni jarak yang menghubungkan suatu wilayah dengan pusat-pusat pelayanan yang lebih tinggi.
Proses perubahan pemanfaatan lahan adalah suatu rentetan peristiwa yang dialami oleh bentuk pemanfaatan lahan tertentu, sehingga menghasilkan bentuk pemanfaatan lahan yang berbeda. Apabila dalam kurun waktu tertentu suatu bentuk pemanfaatan lahan menjadi bentuk pemanfaatan yang berbeda dapat dikatakan bahwa bentuk pemanfaatan tersebut mengalami proses perubahan dan apabila dalam kurun waktu tertentu suatu bentuk pemanfaatan tetap sama maka dapat dikatakan bahwa bentuk pemanfaatan lahan tersebut tidak mengalami proses perubahan. (Rahayu, 2002 : 12)
Menurut Yunus (2001: 80) proses perubahan pemanfaatan lahan didaerah pinggiran kota terjadi sangat kompetitif, namun hal ini dapat berubah manakala intervensi pemerintah dan sistem perencanaan pemanfaatan lahan sudah diaplikasikan secara ketat. Dapat disimpulkan bahwa ada empat isu penting berkenaan dengan proses perubahan pemanfaatan lahan didaerah pinggiran kota, yaitu (1) meningkatknya harga lahan,(2) meningkatnya biaya dan harga perumahan (3) meningkatnya gejala spekulasi lahan dan (4) meningkatnya gejala fragmentasi lahan.

Berdasarkan konsep-konsep yang telah dikemukakan  tentang tata guna lahan, penggunaan lahan dan perubahan penggunaan lahan dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian lahan pertanian adalah lahan yang digunakan untuk kegiatan pertanian (sawah dan ladang), peternakan, perkebunan dan perikanan. Pengetian lahan Non pertanian adalah lahan yang digunakan untuk kegiatan non pertanian, antara lain jalan, kuburan, bangunan-bangunan perumahan, desa, pasar dan lain sebagainya. Sedangkan pengertian perubahan penggunaan lahan pertanian ke non pertanian adalah perubahan fungsi suatu lahan pertanian menjadi lahan non pertanian dalam kurun waktu yang berbeda.

DMCA.com Protection Status
Share on Google Plus

About Ahmad Budairi

Nusa Gates adalah gerbang Nusantara yang mengabarkan kepada publik mengenai fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita.
4/20/2016 05:33:00 PM
    Komentar Blogger
    Komentar dengan Facebook

0 komentar:

Post a Comment